wisuda-ke76-unpab-bawa-pesan-pendidikan-60-saat-manusia-dan-ai-harus-berkolaborasi-1787225967_34.jpg

Wisuda ke-76 UNPAB Bawa Pesan Pendidikan 6.0: Saat Manusia dan AI Harus Berkolaborasi

MEDAN 19 Agustus 2026 – Pelaksanaan hari kedua Wisuda ke-76 Universitas Pembangunan Panca Budi (UNPAB) Tahun 2026 menjadi momentum penting yang tidak hanya menandai kelulusan para wisudawan, tetapi juga menghadirkan gagasan strategis mengenai masa depan pendidikan di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan. Kegiatan wisuda hari kedua tersebut secara resmi dibuka oleh Rektor Universitas Pembangunan Panca Budi, Assoc. Prof. Dr. H. Muhammad Isa Indrawan, S.E., M.M., sekaligus menjadi bagian dari rangkaian akademik yang memperkuat pesan transformasi pendidikan menuju Indonesia Emas 2045.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Dr. Ir. H. M. Budi Djatmiko, M.Si., M.E.I., Ketua Umum APTISI Pusat, menyampaikan orasi ilmiah yang menekankan pentingnya transformasi pendidikan menuju era Pendidikan 6.0, ketika manusia dan teknologi tidak lagi ditempatkan sebagai pihak yang saling bersaing, melainkan sebagai mitra yang harus berkolaborasi.

Orasi ilmiah yang disampaikan mengusung tema Merdeka Berkarya, Unggul Mengabdi: Sinergi Kampus dan Lulusan Mewujudkan Kampus Berdampak Menuju Indonesia Emas 2045. Dalam paparannya, Budi Djatmiko menegaskan bahwa perguruan tinggi harus bergerak melampaui fungsi tradisional sebagai tempat transfer ilmu. Kampus dituntut menjadi ruang yang mampu mengubah pengetahuan menjadi keberdayaan, inovasi, dan dampak nyata bagi masyarakat.

Salah satu gagasan utama yang disampaikan adalah pergeseran paradigma dari kampus sebagai “menara gading” menuju kampus berdampak. Ukuran keberhasilan perguruan tinggi tidak lagi cukup dilihat dari banyaknya lulusan, aktivitas akademik, atau publikasi, tetapi juga dari kualitas pembelajaran, inovasi, mobilitas sosial, kontribusi terhadap persoalan publik, serta nilai nyata yang dihasilkan bagi masyarakat.

Dalam konteks perkembangan teknologi, orasi tersebut menempatkan kecerdasan buatan sebagai tantangan sekaligus peluang besar bagi pendidikan. AI dinilai bukan sekadar alat otomatisasi, tetapi teknologi yang mampu mengambil alih berbagai tugas kognitif. Karena itu, mahasiswa tidak cukup hanya mengenal atau menggunakan AI, tetapi juga harus mampu memahami, memverifikasi, mengintegrasikan, dan memanfaatkannya untuk menciptakan solusi secara bertanggung jawab.

Di sisi lain, perubahan teknologi juga menuntut transformasi peran dosen dan pendidik. Ketika informasi dapat diakses dengan semakin mudah melalui teknologi, dosen tidak lagi cukup berperan sebagai penyampai materi. Dalam orasi tersebut, dosen didorong menjadi “epistemic architect”, yakni perancang ekosistem berpikir yang mampu membimbing mahasiswa memahami masalah, menguji integritas ilmiah, menghubungkan teori dengan konteks nyata, serta menumbuhkan keberanian moral dan etika profesi.

Gagasan ini kemudian dirangkum dalam konsep simbiosis manusia dan mesin. Mesin dapat mengambil peran dalam tugas rutin, administrasi, analisis data, dan proses otomatis, sementara manusia tetap memegang peran utama dalam membimbing karakter, empati, etika, kreativitas, dan pengambilan keputusan. Dengan kata lain, teknologi tidak diarahkan untuk menggantikan pendidik, tetapi membebaskan pendidik dari pekerjaan rutin agar dapat menjalankan fungsi kemanusiaannya secara lebih utuh.

Konsep Pendidikan 6.0 menjadi salah satu titik penting dalam orasi ilmiah tersebut. Pendidikan masa depan digambarkan sebagai sistem pembelajaran yang menggabungkan kecerdasan buatan dengan kedalaman kemanusiaan. Pembelajaran tidak lagi dibatasi oleh ruang kelas, tetapi berkembang menjadi pengalaman yang lebih personal, adaptif, imersif, dan berkelanjutan.

Teknologi seperti Artificial Intelligence (AI), Virtual Reality (VR), dan Augmented Reality (AR) dipandang dapat memperluas pengalaman belajar, sementara pendekatan neuro-education, pembelajaran berbasis pengalaman, personalisasi berbasis data, serta akses global menjadi bagian dari fondasi baru pendidikan. Namun, seluruh pemanfaatan teknologi tersebut tetap harus berakar pada etika, tanggung jawab, inklusivitas, dan nilai kemanusiaan.

Dalam paradigma Pendidikan 6.0, peserta didik tidak lagi diarahkan hanya untuk menghafal fakta. Fokus pendidikan bergeser pada kemampuan berpikir kritis, menyelesaikan masalah, beradaptasi, berkolaborasi, dan menciptakan solusi baru. Kolaborasi antara teknologi canggih dan kedalaman kemanusiaan dipandang sebagai kunci dalam membentuk generasi yang tidak hanya mahir menggunakan teknologi, tetapi juga mampu mengendalikannya secara bijaksana.

Orasi ilmiah tersebut juga menekankan bahwa pendidikan tidak berhenti ketika mahasiswa diwisuda. Kelulusan justru menjadi awal dari proses pembelajaran sepanjang hayat. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat cepat membuat lulusan harus terus memperbarui keterampilan, memperluas kompetensi, dan beradaptasi dengan perubahan yang terjadi.

Gagasan tersebut memiliki relevansi kuat dengan pelaksanaan Wisuda ke-76 UNPAB Tahun 2026. Pada momentum wisuda ini, UNPAB mewisuda sebanyak 1.815 lulusan, terdiri dari 426 lulusan Pascasarjana, 1.366 lulusan Sarjana, dan 23 lulusan Diploma. Pelaksanaan hari kedua yang dibuka oleh Rektor UNPAB, Assoc. Prof. Dr. H. Muhammad Isa Indrawan, S.E., M.M., turut menegaskan bahwa wisuda tidak hanya menjadi simbol selesainya pendidikan formal, tetapi juga titik awal bagi lulusan untuk membawa pengetahuan, keterampilan, dan nilai pengabdian ke tengah masyarakat.

Dalam orasinya, Budi Djatmiko juga memaparkan arah transformasi perguruan tinggi menuju 2045. Periode 2026–2030 diarahkan pada pembangunan fondasi, termasuk penguatan literasi AI, pembelajaran berbasis proyek, dan pengembangan kompetensi. Tahap berikutnya diarahkan pada akselerasi ekosistem, penguatan hubungan kampus dengan alumni, serta perluasan kontribusi perguruan tinggi dalam jejaring pengetahuan global.

Pesan utama dari orasi ilmiah tersebut menegaskan bahwa masa depan pendidikan bukan tentang manusia yang berkompetisi melawan mesin. Tantangan terbesar justru terletak pada kemampuan manusia untuk bekerja bersama teknologi tanpa kehilangan nilai, etika, kreativitas, empati, dan tanggung jawab.

Melalui momentum Wisuda ke-76, UNPAB mengangkat pesan bahwa perguruan tinggi perlu terus bertransformasi agar tetap relevan dengan perubahan zaman. Pendidikan 6.0 menjadi gambaran tentang masa depan pembelajaran yang tidak hanya canggih secara teknologi, tetapi juga semakin manusiawi, adaptif, dan berdampak.

Dengan semangat “Merdeka Berkarya, Unggul Mengabdi untuk Indonesia Emas,” Wisuda ke-76 UNPAB menjadi pengingat bahwa kelulusan bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal bagi generasi baru untuk terus belajar, berkolaborasi, menciptakan inovasi, dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, bangsa, dan negara.

 

Berita Lainnya